Kamis, 10 Februari 2011

titrasi asam-basa


PRAKTIKUM KIMIA

I. Judul
Titrasi Asam Kuat dengan Basa Kuat.

II. Tujuan
Mengetahui kemolaran larutan HCl dengan menggunakan larutan basa kuat.

III. Dasar Teori
Titrasi merupakan suatu metode untuk menentukan kadar suatu zat dengan menggunakan zat lain yang sudah diketahui konsentrasinya. Titrasi asam-basa adalah titrasi yang yang melibatkan asam maupun basa sebagai titer (zat yang telah diketahui konsentrasinya) maupun titrant (zat yang akan ditentukan kadarnya) dan berdasarkan reaksi penetralan asam-basa. Kadar larutan asam ditentukan dengan menggunakan larutan basa yang telah diketahui kadarnya, dan sebaliknya, kadar larutan basa dapat diketahui dengan menggunakan larutan asam yang diketahui kadarnya. Titik ekivalen yaitu pH pada saat asam dan basa (titrant dan titer) tepat ekivalen atau secara stoikiometri tepat habis bereaksi.
Ada dua cara umum untuk mengetahui titik ekivalen pada titrasi asam basa:
1. Memakai pH meter.
2. Memakai indikator asam basa. Indikator ditambahkan pada titrant sebelum proses titrasi dilakukan. Indikator ini akan berubah warna ketika titik ekivalen terjadi, dan pada saat itulah titrasi dihentikan.
Titik akhir titrasi yaitu pH pada saat indikator berubah warna dan saat itu juga titrasi dihentikan. Pada titrasi asam kuat dengan basa kuat digunakan indikator Fenolftalein (trayek pH 8,3-10) karena kesalahannya paling kecil. Dalam titrasi ini titik akhir pH>7 dan perubahan warna pada titik akhit titrasi adalah merah.
Untuk mengetahui kemolaran asam kuat (HCl) dapat diketahui setelah mengetahui volum basa kuat (KOH) yang berkurang sampai titik akhir titrasi (reaksi dihentikan). Pada saat titik ekivalen mol basa kuat akan sama dengan mol asam kuat, sehingga kemolaran asam kuat dapat dicari.

IV. Alat dan Bahan
Ø Alat :
1. Statif dan klem
2. Erlenmeyer 
3. Biuret 
4. Corong 
5. Pipet tetes 
6. Gelas ukur
7. Gelas kimia
 Bahan :
Ø
1. HCl 20 mL 
2. NaOH 0,1 M 50 mL
3. Fenolftalein (PP)

V. Langkah Kerja
1. Siapkan alat dan bahan yang diperlukan.
2. Masukkan
10 mL larutan HCl ke dalam gelas ukur.
3. Tuangkan
10 mL larutan HCl tersebut ke dalam erlenmeyer.
4. Tambahkan tiga tetes indikator Fenolftalein (PP) ke dalam larutan HCl tersebut.
5. Masukkan 50 mL larutan NaOH 0,1 M dengan menggunakan gelas kimia ke dalam biuret setelah memastikan biuret sudah terpasang dengan baik pada klem dan telah terpasang corong pada biuret untuk memudahkan penuangan NaOH 0,1 M ke dalam biuret.
6. Perguakan pipet tetes saat skala pada biuret hampir mencapai angka nol, dan pastikan bagian meniskus cekung yang bawah (NaOH 0,1 M) tepat pada angka nol biuret.
7. Menetesi larutan HCl dengan NaOH 0,1 M. Penetesan dilakukan secara hati-hati dan pelan-pelan yaitu tetes demi tetes dan erlenmeyer terus menerus diguncangkan. Penetesan dihentikan saat terjadi perubahan warna yang tetap pada larutan HCl yaitu merah muda.
8. Mencatat volum NaOH 0,1 M pada biuret yang berkurang (bereksi dengan larutan HCl).


VI. Data
No.
Nama Larutan
v.awal biuret
V.Akhir biuret
V.Total
Perubahan warna


Asam Kuat
Basa Kuat
1.
HCL
NaOH
50 mL
40mL
10mL
tetap
2.
HCL
NaOH
50 mL
39,5 mL
10,5 mL
bening –merah muda

VII. Analisis Data
 Volum rerata basa kuat yang digunakan adalah
Ø
  
 Keterangan:
 Pada percobaan pertama volum NaOH 0,1 M yang digunakan sebanyak
10 mL, setelah 10mL HCL di masukkan volum totalnya 20mL dan titak terjadi perubahan warna.Hal ini menunjukkan kondisi netral dengan pH=7.
Pada percobaan ke dua volum NaOH 0,1 M yang di gunakan sebanyak 10mL, setelah 11mL HCL di masukkan volum totalnya 21mL terjadi perubahan warna yang awal mulanya larutan tidak berwarna menjadi merah muda. Hal ini menunjukkan larutan tidak dalam keadaan netral dengan kondisi basa lebih banyak dalam larutan.

Ø Jumlah mol NaOH 0,1 M yang digunakan adalah
n NaOH = M . V 
  = 0,1.1
0.5
  = 1
,5 mmol 
  = 0,001
5 mol

n NaOH = 0,0015 mol
koefisien KOH = koefisien HCl, maka
n HCl = n
NaOH
  = 0,001
5 mol

 M HCl =
n : V
  =  
0,0015 : 10mL
  =
 1,5 mmol : 10 mL 
  =   0,15 M
Ø Kemolaran HCl yang sebenarnya yaitu 0,1 M dan seharusnya volum NaOH yang berkurang pada biuret sebanyak 10 mL. Sedangkan dalam percobaan didapat bahwa perhitungan rerata volum NaOH yang berkurang sebanyak 10,5 mL, sehingga didapat kemolaran HCl adalah 0,15 M. Hal ini terjadi karena kurang telitinya mata dalam membedakan warna yang permanen (tetap) pada titik akhir titrasi.



VIII. Kesimpulan
Dari hasil percobaan yang dilakukan, dapat diketahui bahwa kemolaran larutan HCl adalah 0,
15 M.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar